Sunday, 3 July 2011

a sentimentil one..

Rabu, 15 Juni 2011

Aku ingin sedikit bercerita tentang sosok laki-laki yang sangat berpengaruh dalam hidupku, dia yang telah 17 tahun bersamaku,


AYAH.
Seorang tokoh idealis yang sarat akan kesempurnaan. Mendidikku dengan caranya yang kebanyakan harus aku tentang. Pria 57 tahun yang pada mulanya akrab kupanggil “bapak”, dan entah saat aku berusia kira-kira 4 tahun atau mungkin kurang dari itu, beliau memintaku memanggilnya dengan sebutan yang bertahan sampai sekarang, ayah.
Tujuh belas tahun beliau membesarkanku bersama mama, ibarat grafik elektrokardiograf pasien yang sedang dalam masa kritis. Benar-benar penuh liku. Pendebat setiaku, untuk semua pendapatku. Debatan beliaulah yang memacuku untuk terus maju, membuatku merasa tertantang untuk membuatnya berhenti meremehkanku. Iya, meremehkanku.. setidaknya itulah kesan yang aku tangkap 17 tahun terakhir ini. Tapi ternyata keadaan menegurku..
Pada mutasi pejabat eselon per Oktober 2010 lalu, beliau (ayahku) dipindahtugaskan sekaligus Alhamdulillah mengalami kenaikan pangkat. Menjadi seorang kepala kantor kelurahan di kecamatan tertimur kabupaten kami. Entah itu suatu nikmat, atau justru cobaan. Ayah terlihat bungah dengan jabatan barunya, walaupun kantor barunya berjarak 37 kilometer dari tempat tinggal kami. Itu artinya, ayah dipastikan melaju sejauh dua kali 37 kilometer, atau tujuh puluh empat kilometer setiap harinya. Padahal, pada saat itu usia beliau setengah abad lebih empat tahun.
Hari demi hari beliau lalui dengan berbagai macam ekspresi. Berbicara masalah warga yang beliau pimpin, sungguh aku melihat satu ekspresi kekaguman karena sambutan mereka yang luar biasa ramah. Lain halnya jika aku menyinggung tentang PR beliau alias tugas lanjutan dari pejabat sebelumnya, dia hanya bisa menggumam dengan seraut mimik kekecewaan. Ternyata walaupun itu di desa yang notabene terpencil, bukan berarti bebas KKN, beliau benar-benar terlihat prihatin. Untuk hal yang satu ini, beliau bukanlah ahlinya. Beliau berani bertindak benar, dan beliau bukan orang yang dengan mudah mengubah suatu yang tak lazim menjadi lazimhanya dengan segepok kertas bernilai jual. Belum lagi jika membicarakan masalah kondisi fisiknya, beliau terlihat begitu lelah, dan ringkih. Aku maklum, kantor ayah terletak di lereng gunung, pastilah udara disana tidak diragukan lagi dinginnya. Terpaan hujan bukan lagi sesuatu yang baru bagi beliau, ditegaskan dengan jarak tempuh yang cukup lumayan. Alhamdulillah beliau naik sepeda motor, andai aku sudah bekerja akan kubelikan beliau steer bundar. Sekalian untuk melindungi mama saat diharuskan berada disana juga, untuk acara PKK, kondangan, atau sekadar mengakrabkan diri dengan saudara baru bagi keluarga kami, yaitu warga disana. Penganan khas acap kali dibawa serta ayah saat beliau pulang. Sepeda ayah tanki bensinnya ada di depan, tapi ayah masih suka membawakanku oleh-oleh. Padahal aku sering menyuruhnya menginap disana, sekadar untuk menghemat energi, atau menghindari terpaan hujan.
 “Katakanlah ini usia senja nduk.. Ayah harus mengabdi dengan cara yang seperti ini, nggih diikhlaskan saja,wong namanya juga tugas.”
Ah.. Aku terharu mendengarnya.

9 BULAN KEMUDIAN…..
Tepatnya tanggal 1 Juni 2011, ayah yang sedang mengantarku registrasi masuk Universitas saat itu, mendapat telepon dari staffnya. Tanpa basa basi, ternyata ayahku masuk dalam daftar mutasi pejabat eselon. Dan pelantikannya dilaksanakan hari itu juga, kurang lebih 2,5 jam terhitung waktu ayah diberi tahu lewat telepon. Ah, ayahku pindah tugas lagi rupanya. Tanpa ragu beliau menginggalkan aku dan mama yang sedang menyelesaikan registrasi, beliau berjanji akan menjemputku nanti setelah urusannya selesai. Sungguh sesuatu yang lucu, dan membekas di hati. Aku bisa membayangkan betapa kacaunya beliau mengemudikan mobil pinjaman milik pakdheku untuk mengejar ketepatannya mengadiri acara pelantikan itu. Aku dan mama hanya bisa berdoa, dan bertanya-tanya dimana beliau bertugas setelah ini?
Ternyata ayah dipindahtugaskan menjadi kepala kantor kelurahan di daerah tempat kami berdomisili.Ibaratnya hanya tinggal meloncat, ayah sudah bisa mencapai kantornya. Beribu perasaan hinggap di relung hatiku. Senang mendengarnya, ayah bisa lebih memperhatikan kesehatannya. Tapi, ada satu hal yang membuatku merasa sedikit merana. Mama bilang, “dipindah neng kutha ki malah susah nduk atine. Piyayi kutha ki podho angel, podho ora ngajeni.” – dipindah di kota itu justru sedih nduk  hatinya. Orang kota itu susah diatur, susah menghargai.
Ekspresi gamang kutemukan pada raut wajah ayahku setelah aku berjumpa lagi dengannya. Aku yakin, beliau pasti berada di antara dua perasaan yang entah sulit untuk diutarakan. Baru Sembilan bulan beliau bekerja di lereng gunung itu, baru Sembilan bulan beliau merasakan hadirnya keluarga-keluarga baru, baru saja semua yang manis-manis mulai diukir, semua harus berakhir dengan dipindahkannya beliau.
Untuk formalitas, beliau menghadiri acara lepas sambut di tempat kerjanya yang lama. Beliau mengajak serta aku dan mama. Disaat tiba acara pamitan, beliau maju ke podium dan berpidato. Tak dinyana beliau memperkenalkanku.
wargo sadaya, punika ingkang dereng tepang, ingkang ngajeng piyambak punika banda kula. Kula boten gadhah punapa-punapa , kula nggih naming gadhah punika.”
-warga semua, mungkin ini yang belum anda kenal, yang duduk di depan ini adalah harta saya. Saya tidak punya apa-apa, saya hanya punya dia.-
Aku menahan keinginanku untuk menitikkan air mata. Aku tertegun, beliau belum pernah berbicara sesuatu sesentimentil itu. Belum lagi suara beliau yang bergetar saat berpidato, membuatku beranjak menarik selembar tissue untu menghapus tetesan yang sedikit demi sedikit mulai tumpah. Di akhir pidatonya, beliau berpesan kepada “mantan” warganya untuk tetap menganggapnya sebagai saudara dari desa itu, dengan bangga aku menatap sosoknya yang berdiri tegak di podium itu. Aku tahu beliau sedih. Beliau mulai menyayangi desa ini.
Ya Tuhan.. terlepas dari itu semua, beliau menganggapku adalah segala-galanya, beliau menganggapku adalah hartanya. Betapa aku harus bisa membuatnya tersenyum di hari tuanya nanti. Betapa aku harus berusaha membuatnya bangga telah membesarkanku. Betapa aku ingin warga pada saat itu menjadi saksi bahwa mantan pemimpin singkat mereka memiliki harta tak ternilai yang sangat bisa diandalkan. Salah bila aku menganggapnya telah meremehkanku. Justru sebaliknya, beliau menggantungkan banyak harapan di pundakku, di hatiku , karena akulah harta satu-satunya bagi beliau, yang akan selalu berharga di mata beliau dalam kondisi terburukku sekalipun..

p.s : ditulis dalam draft pada tanggal 16 Juni 2011 silam.

No comments:

Post a Comment