Tuesday, 16 March 2010

Ketika..

"ma, yah, aku nanti mau kuliah di HI UGM ya.. Nanti di Jogja aku kost aja.. "
kira2 begitulah ucapanku setahun yang lalu.. Disaat semua shs membuka program rsbi, dan aku hanya bisa berpikir dan harus memilih untuk masuk ke program akselerasi , satu2nya pilihan yang masih bisa aku tarik kesimpulan bahwa ini tidak sia sia..
Masih kelas 9 smp saat itu, aku begitu polos berucap hal itu.. Karena aku pikir masa depan tidaklah apa yang aku lakukan nanti, tetapi sekarang, detik ini... Dan seketika aku mulai benar benar mendalami bakat apa yang sebenarnya aku punya, asetku..
Psikologi dan Bahasa Inggris.. Seketika menjadi pilihanku disaat itu.. Psikologi, karena disaat itu jujur aku telah mampu memahami dan menyelesaikan berbagai masalah yang seharusnya belum aku dapatkan. Bahkan aku sering menulis ungkapan perasaanku dengan logika perasaan , jiwaku yang terdalam.. Hanya itukah modalku? Ya. Aku yakin bisa.. Tapi ternyata, aku sombong.. Aku tak cukup dewasa.. (akan diceritakan lebih jelas nanti .)
Bahasa Inggris.. Kecintaanku pada hal ini telah aku buktikan . Apapun itu, aku benar2 merasa mampu masuk jurusan HI.. Dan seketika aku cari info dimana universitas yang baik dengan HI.nya..
UNIVERSITAS GAJAH MADA . Tak diragukan lagi.. Jogjakarta seolah menjadi impianku setiap saat.. Dan terlontarlah kalimat itu, bersamaan dengan rencana matangku tentang masa depan..

SMA NEGERI .
Aku masuk di program akselerasi.. ( perasaanku tentang program ini telah banyak aku ungkap di posting2 yang sudah2, dan itu menjelaskan belum dewasanya aku. ) Disaat aku begitu mantap akan meneruskan langkahku di Jogjakarta..

--
Ayahku, bermula, watak memang suatu hal yang sulit diubah.. Meskipun bukan tidak mungkin, tetapi dalam konteks ini it's really impossible.. Aku takkan menjelaskan how why what when where ataupun who , hanya saja watak itu membuat ibuku tak merasa nyaman..
Dan hening tercipta dengan indahnya di rumah petak ini.. Ayah, seorang PNS biasa berusia 53 tahun ( terpaut 14 tahun dgn ibuku ) memiliki beberapa kisah yang tak bisa aku ungkap disini.. Seringkali aku cekcok dengannya, masalah apapun itu, selalu kontra, kontra dan kontra lagi.. Sebenarnya aku bisa jadi seseorang yang berargumen tinggi ketika bersamanya . Namun emosiku melahap habis akal sehatku ketika sudah berdebat.. Aku menyayanginya.. Apapun kondisinya, bagaimanapun polah tingkah ayahku, tak peduli apa cemoohan pakdhe budhe om tante.ku tentang beliau.. Aku hanya bisa bilang 'AKU SAYANG AYAH'. Aku mau bisa mengurus ayah di hari tuanya nanti.. Kadang aku bingung bagaimana cara menghentikan asap rokok yang keluar dari bibir kelu.nya.. Bagaimana harus kuingatkan betapa sudah ia tak muda lagi, sering kali ia lupa akan hal itu ketika sudah berada dalam lingkup tennis, tanam menanam, serta reparasi.. Ayah tau aku khawatir yah ? Aku benar2 cemas saat hujan tadi ayah blm pulang.. Ataupun saat tensi ( tekanan darah ) ayah drop, dan sampai benar2 tak bisa berjalan? Dan ayah tahu betapa terharunya aku dengan sms 'dik, segera pulang, polisi statusnya siaga satu. Razia dimana mana. Km blm punya ktp.' dan betapa aku ingin menangis ketika ayah tak percaya padaku.. Anakmu satu2nya di sini, pulang dengan dihujani tatapan tajammu, seakan tak peduli apa alasanku...
Aku tak tahu ayah.. Aku harus membahagiakan ayah dengan cara apa..
Ibuku, seorang wanita 39 tahun dengan segala keistimewaannya sebagai ibu.. Memberi apa yang tak kuminta, mencintai aku , berkorban untukku.. Sama seperti ayah, aku tak peduli apa kata orang tentang ibuku yang belum sarjana.. Ibuku luar biasa, dengan mobilitasnya begitu tinggi. Aku rasa aku tak berlebihan jika aku menjulukinya wanita perkasa.. Aku sayang ibu , sayang ibu, sayang ibu..
Keduanya adalah cahayaku dalam gelap..

Dan ketika harus ada kerikil yang menghantam, haruskah aku tetap menomorsatukan impianku tentang Jogjakarta ?
Apa yang terjadi jika aku disana, dan ibu tak betah dirumah, lalu kerumah eyang lagi seperti 3tahun lalu? Betapa terlukanya hati ibu?
Dan siapa yang akan peduli pada ayahku ?
Dan apa aku harus tetap mengejar mimpiku? Sungguh aku tak pernah berpikir tentang kemungkinan terburuk yang terjadi sekarang.
Aku tak sanggup menjadi penengah..

No comments:

Post a Comment